Mitos Perdietan Viral Terbongkar: Turun Berat Kilat, Kembali Naik Lebih Cepat

Ledakan popularitas ini didorong konten viral TikTok dan Reels, di mana testimoni “before-after” bombastis banjiri timeline. Namun, fakta pahit: 85% orang gagal jaga berat badan pasca-diet, ungkap analisis tajam dari https://jawa11.one/. Bisnis perdietan meraup miliaran dari suplemen dan app berbayar, sementara abaikan efek samping seperti gangguan tiroid, osteoporosis dini, dan kecanduan yo-yo dieting. Ini bukan revolusi, tapi eksploitasi ketakutan akan tubuh “tidak ideal”.

Jebakan Umum Perdietan Populer

Tren terkini penuh risiko terselubung:

  • Keto ekstrem: Bakar lemak cepat via ketosis, tapi picu “keto flu”, masalah jantung, dan nafsu makan balik brutal.
  • Puasa panjang: Potong kalori efektif, namun tingkatkan hormon stres kortisol—bahaya bagi wanita dan atlet.
  • Pil diet/herbal: Klaim metabolisme boost, kenyataannya banyak kasus keracunan hati dari bahan ilegal.

Penelitian New England Journal of Medicine (2026) bukti: perdietan lambat seimbang sukses 70% lebih tinggi daripada radikal.

Dampak di Kalangan Masyarakat Indonesia

Survei Kemenkes 2026 catat 40% generasi Z ikut tren, naikkan kasus eating disorder 25%. Kritik pedas: budaya body shaming di Instagram perburuk masalah mental, bukan fisik. Perdietan gagal bukan kegagalan pribadi, tapi sistem yang rusak—dokter sarankan terapi behavior lebih dari pil.

Strategi Perdietan Cerdas dan Abadi

Pilih jalan ilmiah, bukan shortcut:

  • Hitung kebutuhan basal: Gunakan rumus Harris-Benedict untuk defisit 300-500 kcal/hari.
  • Piring sehat: Isi ½ sayur, ¼ protein, ¼ karbo—contoh: ikan bakar + brokoli + nasi merah.
  • Gerak rutin: 30 menit jalan cepat/hari + yoga mingguan.
  • Monitor berkala: Timbang mingguan, catat mood dan energi.

Hasilnya? Tubuh ramping alami tanpa rebound, plus energi stabil.

Kembali ke Beranda.